selamat datang

welcome to my blog

Minggu, 31 Juli 2011

Fiqh Shiroh

BIOGRAFI ABU SUFYAN BIN AL-HARITS BIN ABDUL MUTHALIB

Al-Harits bin Abdul Mutholib mempunyai seorang anak dari Uzayyah bintu Qais bin Tharif yang bernama Al-Mughirah, dia dikenal dengan sebutan Abu Sufyan. Abu sufyan adalah salah satu sahabat Rasullah saw. Beliau juga masih memiliki hubungan darah dengan Rasulullah. Dimana beliau adalah saudara sepupu Rasul dimana ayah dari Abu Sufyan merupakan paman Rasul.

Setelah tumbuh dewasa Abu Sufyan bin Al-Harits merupakan orang yang paling mirip dengan Rasulullah saw maka, hubungan keluarga mana lagi yang lebih dekat dan kuat dari hubungan Muhammad bin Abdullah dengan Abu Sufyan?. Semua penduduk Makkah tahu bahwa Abu Sufyan bin Al-Harits merupakan pemuda yang paling tampan di Makkah, seorang penunggang kuda yang paling mahir dan pahlawan yang tangguh, dia juga seorang penyair yang yang terpandang, yang dikenal memiliki bobot sastra yang tinggi.

Karena hubungan yang demikian erat itulah, kebanyakan orang menyangka bahwa Abu Sufyan adalah orang yang paling dahulu menerima seruan Rasulullah saw, dan yang paling cepat mempercayai serta mematuhi ajarannya dengan setia. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, ia menjadi penentang Rasulullah saw.

Abu Sufyan tampil memusuhi dan memerangi dakwah Rasulullah saw. Ia berusaha dengan segala daya dan upaya untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Bila kaum Quraisy menyalakan api peperangan melawan Rasulullah saw. dan kaum muslimin, Abu Sufyan selalu turut mengobarkannya dan dia selalu berada di barisan paling depan, melancarkan serangan dengan dua senjatanya yaitu pedang dan lisan. Bahkan dia juga tidak meninggalkan satu pun jenis penyiksaan terhadap orang-orang Muslim, dan Abu Sufyan menggunakan lidahnya untuk menyindir Rasulullah saw dengan kata-kata tajam, kotor, dan menyakitkan.

Abu sufyan terus-menerus memusuhi Rasulullah saw. berkelanjutan hingga masa dua puluh tahun. Selama masa itu, dia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan meneror Rasulullah saw. dan kaum muslimin. Tidak berapa lama sebelum penaklukan Makkah, seorang saudara Abu Sufyan menulis surat kepadanya, mengajak masuk Islam sebelum Mekah ditaklukkan. Ajakan saudaranya itu diterimanya, maka dia pun masuk Islam. Tepati, buku-buku sejarah mencatat kisah macam-macam tentang Islamnya Abu Sufyan.

Setelah dua puluh tahun Abu Sufyan memerangi Islam dan orang-orang Muslim, dua puluh tahun pula dia berbicara atas nama Quraisy untuk memerangi orang-orang Muslim, ketajaman pedangnya tidak kalah dengan ketajaman lidahnya. Tapi siapa yang Allah ingin memberinya hidayah, maka bukakan dadanya untuk memeluk Islam.

Ketika Islam sudah berdiri teguh dan kuat, tersiarlah kabar tentang keberangkatan Rasulullah saw. ke Makkah untuk menaklukannya. Maka dia merasakan dunia ini semakin menyempit, padahal luas mengingat apa yang bakal menimpa kepadanya. suatu ketika Abu sufyan mendapat suatu hidayah dari Allah. Abu Sufyan ingin bertobat dan ikut berjuang bersama nabi dijalan Allah. Lalu Abu Sufyan mengajak putranya Ja'far untuk menemui nabi. Sepanjang perjalanan Abu sufyan terpaksa menutupi wajahnya dikarenakan mungkin rasulullah telah menghalalkan darahnya, hingga bila Abu Sufyan tertangkap oleh salah seorang muslim ia akan menerima hukuman qishah. Maka ia harus mencari akal bagaimana cara menemui nabi sebelum jatuh ke tangan orang lain. Ketika Abu Sufyan telah dekat dengan nabi ia lalu membuka penutup mukanya lalu menjatuhkan tubuhnya dihadapan rasulullah tapi Rasulullah memalingkan wajahnya maka Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain lalu serempak dengan putranya Abu Sufyan mengucap syahadat dan berkata "tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai rasulullah". Rasul pun menjawab "tiada dendam dan tiada penyesalan wahai Abu Sufyan".

Ketika itu Abu Sufyan menjadi seorang yang beriman dengan suatu keimanan yang emnyatu dengan daging dan darahnya. Setelah itu dia rajin membaca Al-Quran, menimba ilmu dari Rasulullah, menyinari hatinya sambil menyesali hari-hari yang pernah dilewatinya jauh dari cahaya. Bagaimana Abu Sufyan menolak kebaikan ini? Abu Sufyan aktif dating ke masjid dan hamper tidak pernah meninggalkannya.

Abu Sufyan bin Al-Harits mendapat kesaksian keshalehan dari Rasulullah saw. padahal tak seberapa lama sebelumnya dia menghunus pedang dan lisannya untuk menyerang orang-orang muslim. Tapi medali telah diberikan Rasulullah saw. kepada Abu Sufyan yang menggambarkan inti imannya, setelah dua puluh tahun dia terbelenggu dalam syirik. Dia pun menampakkan tambangnya yang berharga, sebagai pembenaran terhadap sabda Rasulullah saw. “manusia itu merupakan tambang. Yang terbaik diantara mereka semasa jahiliyah juga terbaik diantara mereka dalam Islam jika mereka memahami.”

Abu Sufyan bin Al-Harits tidak pernah berfikir bahwa di kemudian hari dia menjadi salah seorang shahabat yang terkemuka. Karena selama dua puluh tahun dia turun di kancah tanpa ada tujuan yang dia raih. Dia memerangi Islam dan orang-orang muslim. Tapi setelah Allah memasukan cahaya ke dalam hatinya dan dia merasakan manisnya iman, maka dia meniti jalan ibadah dan keshalihan dalam rombongan shahabat yang lebih dulu beriman.

Rasulullah saw. memperhatikan keadaan Abu Sufyan dalam membela islam dan mencintai Islam. Karena itu rasulullah saw bersabda, “Engkau wahai Abu sufyan seperti yang di katakana dalam pepatah, ‘Setiap buruan berada di lubang jebakan’.”

Setelah Rasulullah melaksanakan haji wada’ beliau menetap di Madinah hingga beberapa bulan dan beliau merasa ajal sudah dekat. Ketika tersiar kematian beliau orang-orang Muslim merasakan ini sebagai musibah yang besar. Ketika Abu Sufyan bin Al-Harits mendengar berita itu dia merasakan kekosongan yang besar, kedua matanya meneteskan air mata, karena Abu Sufyan harus berpisah dengan sang kekasih dan anak pamannya.

Abu Sufyan bin Al-Harits mengahbiskan hidupnya sebagai ahli ibadah. Dia habiskan waktu siang untuk beribadah dan I’tikaf di masjid dan memperbanyak shalat, dengan menghadap kepada Rabb-nya, hingga di kenal sebagai orang di kenal dia memiliki sifat itu. Waktu malam dilalui Abu Sufyan dengan berdo’a dan menundukkan hati. Begitu yang dilakukan Abu Sufyan.

Dan sepeninggal Rasulullah saw. ruhnya mendambakan kematian agar dapat menemui Rasulullah saw. di kampong akhirat. Demikianlah walaupun nafasnya masih turun naik, tetapi tetap kematian menjadi tumpuan hidupnya.

Pada suatu hari, orang melihatnya berada di Baqi’ sedang digalinya kuburan untuk dirinya sendiri. Tidak lebih tiga hari setelah itu, maut datang menjemputnya, seakan sudah berjanji sebelumnya.

Dia berpesan kepada istri dan anak-anaknya, “Kalian sekali-kali jangan menangisiku. Demi Allah! Aku tidak berdosa sedikit pun sejak aku masuk Islam. ”Lalu, ruhnya yang suci pergi ke hadirat Allah. Khalifah Umar bin Khattab turut menyalatkan jenazahnya. Beliau menangis kehilangan Abu Sufyan bin Harits, sahabat yang mulia.

Sumber di ambil dari judul buku “LELAKI DI JAMIN SYURGA” dan “KARAKTERISTIK PERIHIDUP 60 SHAHABAT RASULULLAH” dan alamat website :

http://abufarhah.wordpress.com/2009/04/09/abu-sufyan-bin-harits/

http://id.shvoong.com/humanities/moslem-studies/1974451-abu-sufyan-bin-harits/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar